Siapa Sangka, Mantan ASN, Dyah Retno Nilawati Bangun Kreasi Nila Batik hingga Dipasarkan ke Berbagai Daerah

Sidoarjopost.com  – Siapa sangka, keputusan Dyah Retno Nilawati meninggalkan karier sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) setelah 17 tahun mengabdi justru membuka jalan baru dalam hidupnya.

Berawal dari hobi membatik, perempuan asal Porong, Kabupaten Sidoarjo, itu merintis usahanya Kreasi Nila Batik hingga berkembang menjadi Industri Kecil Menengah (IKM) sektor ekonomi kreatif. Kini, karya batiknya telah dibeli dari berbagai daerah di Indonesia.

Dyah memutuskan pensiun dini dari ASN pada akhir 2016. Setelah mengakhiri masa pengabdiannya, ia mulai menata langkah baru dengan menekuni keterampilan membatik yang sejak lama digemarinya.

Mantan pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) itu mulai merintis usaha batik dari rumah setahun setelah pensiun dini, tepatnya pada 2017.

Berbekal ketertarikannya terhadap batik, ia terus mempelajari dan mengembangkan kemampuan membatik hingga akhirnya berani membangun Kreasi Nila Batik sebagai usaha.

“Waktu saya pensiun dini itu belum punya usaha. Awalnya hanya hobi membatik. Lama-lama saya belajar lebih serius sampai akhirnya berani mendirikan Kreasi Nila Batik,” kenang Dyah saat ditemui di rumah batiknya Juwet Kenongo, Porong, Minggu (26/7/2026).

Kreasi Nila Batik Berawal Dari Pesanan Whatsapp

Pada awal merintis usaha, mantan ASN yang kini berusia 53 tahun itu mengerjakan seluruh proses membatik seorang diri dari rumah. Mulai dari membuat pola, mencanting, mewarnai kain, hingga menyelesaikan produk, seluruh tahapan dilakukan sendiri.

Titik balik perjalanan usahanya terjadi ketika seorang teman yang berprofesi sebagai dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melihat hasil batik yang diunggah melalui status WhatsApp.

“Teman saya melihat status WhatsApp yang saya unggah. Beliau bertanya, ‘Jualan apa?’ Saya jawab, ‘Jualan batik.’ Lalu beliau langsung memesan lima lembar kain batik. Itulah pesanan pertama yang saya terima,” cerita Dyah.

Sejak menerima pesanan pertama tersebut, permintaan terhadap Kreasi Nila Batik terus meningkat. Melihat usahanya mulai berkembang, ia menambah tenaga kerja dengan mengajak salah satu saudara dekatnya membantu proses produksi.

Usahanya pun terus berkembang. Kini, Kreasi Nila Batik mempekerjakan sekitar 10 orang untuk mendukung proses pembuatan batik, pengembangan produk, hingga pemasaran.

Kreasi Nila Batik Mengangkat Kearifan dan Budaya

Kecintaan perempuan asal Porong itu terhadap batik tumbuh sejak kecil. Sang nenek, pembatik sarung asal Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, mengenalkan dunia batik kepadanya.

Meski tidak sempat belajar langsung dari sang nenek, ia mempelajari teknik membatik secara otodidak. Sejak bergabung dalam komunitas pada 2022, kemampuannya semakin berkembang melalui berbagai pelatihan serta belajar kepada sejumlah perajin dari berbagai daerah.

Bagi pemilik Kreasi Nila Batik itu, batik bukan sekadar kain bermotif. Karya tersebut menjadi media untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan identitas daerah asalnya, yakni Porong.

Karena itu, Kreasi Nila Batik menghadirkan dua motif khas yang menjadi ciri utama, yakni Batik Candipari dan Batik Juwet Kenongo.

Motif Batik Candipari mengambil inspirasi dari Candi Pari, peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Desa Candipari, Kecamatan Porong. Melalui motif tersebut, Dyah membawa cerita sejarah lokal ke dalam karya batik agar semakin dikenal.

Sementara Batik Juwet Kenongo mengangkat nama salah satu desa di wilayah Porong sebagai bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal.

Menurut Dyah, setiap motif memiliki cerita tersendiri. Baginya, batik bukan hanya produk fesyen, tetapi juga media untuk mengenalkan nilai budaya yang ada di balik setiap karya.

“Kalau memakai batik kami, harapannya bukan hanya melihat kainnya, tetapi juga mengenal cerita di balik motifnya. Ada sejarah dan budaya Porong yang kami bawa melalui karya ini,” ujar Dyah.

Seiring perkembangan usaha, Dyah memperluas produk Kreasi Nila Batik. Tidak hanya kain batik tulis, tetapi juga pakaian, tas, sepatu, dompet, hingga aksesori berbahan batik dan ecoprint.

Kini, Kreasi Nila Batik telah memiliki badan usaha resmi, izin merek, serta sertifikasi halal. Produknya telah dibeli dari sejumlah daerah seperti Jakarta, Kalimantan Barat, Balikpapan, Sulawesi Utara, Lamongan, Tuban, Gresik, dan Probolinggo.

Secara umum sudah lebih aktif, tetapi ada beberapa kalimat yang masih terdengar kurang alami. Berikut versi yang lebih mengalir tanpa mengubah gaya penulisan berita Anda.

Kreasi Nila Batik Masuk 35 Besar Kurasi BUMN 2022

Bergabung dengan komunitas UMKM tingkat Kecamatan Porong mendorong Dyah mengembangkan usahanya lebih pesat. Berbagai pelatihan dan pendampingan usaha juga membuka kesempatan bagi Kreasi Nila Batik untuk mengikuti program kurasi UMKM yang diselenggarakan salah satu BUMN pada 2022.

Dari sekitar 15.000 peserta UMKM di seluruh Indonesia, Kreasi Nila Batik berhasil masuk 35 besar nasional dan membawa nama Kabupaten Sidoarjo sebagai satu-satunya wakil yang lolos.

“Pesertanya sekitar 15.000 UMKM dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah Kreasi Nila Batik masuk 35 besar nasional. Dari Jawa Timur hanya tiga UMKM yang lolos, yakni dari Jember, Malang, dan Sidoarjo,” ungkap Dyah.

Melalui program tersebut, Dyah memperluas jaringan usaha sekaligus memperkuat pengelolaan bisnisnya.

Kreasi Nila Batik Memberdayakan Siswa Disabilitas dan Perempuan

Bagi Dyah, keberhasilan usaha bukan hanya soal penjualan. Ia juga menjadikan Kreasi Nila Batik sebagai ruang belajar sekaligus tempat pemberdayaan.

Setiap Sabtu dan Minggu, Dyah membuka rumah produksinya sebagai tempat praktik membatik bagi siswa SLB Negeri Juwet Kenongo. Para siswa belajar membuat pola, mencanting, mewarnai kain, hingga menghasilkan karya bersama Kreasi Nila Batik.

“Saya tidak ingin mereka hanya datang untuk belajar. Mereka ikut berproduksi, hasil karyanya kami pasarkan, lalu ketika terjual mereka juga mendapatkan uang saku. Saya ingin mereka merasa dihargai atas hasil kerjanya,” tutur Dyah.

Selain melatih siswa disabilitas, Dyah juga membuka kesempatan bagi perempuan, termasuk ibu rumah tangga maupun single parent, untuk belajar membatik sebagai bekal keterampilan.

Di luar aktivitas usahanya, Dyah aktif menjadi narasumber dan instruktur membatik di berbagai sekolah serta komunitas di Sidoarjo.

Beberapa sekolah yang pernah mengundangnya antara lain SMA Mawar Sharon Christian School (MSCS), SMA Santa Carolus, SMA Antartika, SMK Antartika, SMP Negeri 2 Tanggulangin, SMP Negeri 3 Sidoarjo, SMP Negeri 4 Sidoarjo, serta SLB Negeri Juwet Kenongo.

“Setiap mengisi kegiatan, saya selalu membawa peralatan batik supaya setelah sesi motivasi mereka bisa langsung praktik bersama. Saya ingin para peserta pulang membawa keterampilan baru dan pengalaman membatik. Harapannya, mereka tidak hanya mengenal batik sebagai karya budaya, tetapi juga ikut menjaga dan melestarikannya,” kata Dyah.

Dipercaya Menyuplai Seragam Batik Panitia Haji

Dyah mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo semakin mempercayai produknya dengan memilih Kreasi Nila Batik sebagai salah satu penyedia bahan seragam batik panitia haji selama tiga tahun berturut-turut, yakni pada 2023, 2024, dan 2025.

“Total kebutuhan sekitar 2.500 lembar kain. Masing-masing UMKM mendapat porsi sekitar 500 lembar kain dan kami menjadi salah satunya,” jelas Dyah.

Untuk memasarkan produknya, Dyah memanfaatkan media sosial seperti TikTok, WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Selain melalui platform digital, ia juga melayani pemesanan secara langsung.

Dyah juga aktif mengenalkan dan menjual produknya secara langsung melalui berbagai kegiatan, salah satunya Car Free Day (CFD) di Alun-alun Sidoarjo.

“Kami tetap melayani pembelian secara langsung karena banyak yang ingin melihat dan memilih kain batik. Selain itu, kami juga masih aktif mengikuti kegiatan seperti CFD untuk mengenalkan Kreasi Nila Batik kepada calon pembeli,” ujar Dyah.

Dari Kreasi Nila Batik, Dyah memperoleh laba bersih sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan. Angka tersebut meningkat saat pesanan sedang ramai.

“Kalau dihitung bersih, rata-rata sekitar Rp5 juta sampai Rp6 juta per bulan. Kalau pesanan sedang ramai, pendapatannya tentu bisa lebih besar,” ungkap Dyah.

Berharap Ada Galeri Bersama UMKM

Ke depan, Dyah berharap pemerintah menyediakan galeri bersama agar pelaku UMKM memiliki ruang promosi yang lebih luas.

“Harapan kami ada galeri bersama untuk UMKM. Dengan begitu, pelaku usaha yang baru berkembang juga memiliki kesempatan yang sama untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat,” harap Dyah.

Bagi Dyah, keberhasilan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar. Kemauan belajar, ketekunan, dan konsistensi menjadi kunci agar keterampilan berkembang menjadi karya bernilai.

“Saya memulai semua ini dari hobi, bukan karena sejak awal sudah punya usaha. Jadi jangan takut memulai dari hal kecil. Kalau mau terus belajar, tekun, dan tidak mudah menyerah, insya Allah akan selalu ada jalan untuk berkembang,” tutur Dyah.

Dyah Retno Nilawati membuktikan bahwa hobi yang ditekuni secara serius dapat berkembang menjadi usaha bernilai setelah pensiun dari ASN.

Berawal dari rumah, Dyah tidak hanya membawa identitas budaya Porong melalui karya batiknya, tetapi juga membuka peluang kerja dan menghadirkan ruang belajar bagi masyarakat di sekitarnya.

 

Red-sda-post