Sidoarjopot.com – Bupati Sidoarjo Subandi mengusulkan penambahan 10.500 sambungan rumah (SR) jaringan gas rumah tangga (jargas) untuk Desa Tropodo, Kecamatan Krian.
Usulan itu disampaikan saat Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman meninjau pemanfaatan jargas di Desa Kalipecabean, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jumat (18/9/2026).
Subandi mengarahkan usulan tersebut untuk mendukung masyarakat Desa Tropodo yang mengembangkan industri kecil dan menengah (IKM) tahu. Menurutnya, pemanfaatan jargas dapat membantu menekan biaya energi yang selama ini dikeluarkan pelaku usaha.
“Di Desa Tropodo ada usaha tahu. Kami sudah mengusulkan kurang lebih 10.500 sambungan karena satu kampung ini merupakan sentra industri kecil dan menengah (IKM) tahu,” kata Subandi.
Subandi berharap penggunaan jargas dapat meringankan pengeluaran masyarakat. Ia mencontohkan, warga yang biasanya menghabiskan tiga tabung LPG dalam sebulan bisa mengurangi penggunaannya setelah beralih ke jargas.
“Harapannya, dengan adanya jaringan gas ini, beban masyarakat menjadi lebih ringan. Kalau biasanya warga dalam satu bulan menggunakan tiga tabung gas, sekarang cukup satu. Jadi, perbedaannya cukup jauh,” ujar Subandi.
Subandi menilai perluasan jaringan gas ke Desa Tropodo, Kecamatan Krian, sangat diperlukan untuk menopang industri kecil dan menengah (IKM) tahu yang menjadi salah satu kegiatan ekonomi masyarakat setempat.
Menurutnya, sektor industri dan UMKM di Sidoarjo cukup besar sehingga pemerintah daerah terus mendorong ketersediaan energi murah bagi masyarakat.
“Sidoarjo ini daerah industri. UMKM kita kurang lebih hampir 250 ribu. Masih banyak pekerjaan rumah dalam pemanfaatan jargas, termasuk di daerah Krian,” katanya.
Pemkab Sidoarjo, lanjut Subandi, siap membantu proses administrasi dan perizinan untuk mendukung pengembangan jargas.
“Terkait perizinan, insyaallah pemerintah daerah akan mendukung dan membantu. Untuk meringankan perizinan dan lain-lain, insyaallah akan kita dampingi,” ujarnya.

KSP Dudung Pastikan Jargas Gratis dan Pasokan Tetap Andal
Sementara itu, Dudung meninjau langsung penggunaan jargas oleh warga Desa Kalipecabean. Pemerintah telah membangun 7.223 sambungan rumah di Kecamatan Candi dan Waru. Warga Kecamatan Tanggulangin juga telah menggunakan jargas yang pemerintah bangun pada tahap sebelumnya.
Dudung berdialog dengan warga dan melihat langsung pemanfaatan jaringan gas di rumah mereka. Ia menilai jargas memudahkan masyarakat karena pasokan gas tersedia selama 24 jam tanpa perlu membeli tabung LPG baru ketika gas habis.
“Yang tadinya harus beli gas 3 kilo yang cukup mahal, sekarang dengan ada jaringan gas, ini akan semakin murah,” ujar Dudung.
Pemerintah pusat juga membangun jaringan dan memasang pipa jargas tanpa membebankan biaya kepada masyarakat. Dudung meminta warga segera melaporkan jika menemukan pihak yang menarik pungutan.
“Tidak dipungut biaya, sehingga kalau misalnya ada oknum yang memanfaatkan situasi ini, segera dilaporkan saja kepada yang terkait,” katanya.
Dudung juga meminta PGN menjaga kelancaran pasokan dan kualitas layanan ketika jumlah pelanggan bertambah.
“Jagalah keandalan pasok dan kualitas layanan bagi pelanggan lama seiring bertambahnya pelanggan baru,” tegasnya.
Sebagai KSP, Dudung memastikan pemerintah terus mengawal pelaksanaan program jargas agar berjalan sesuai target.
“Saya sebagai Kepala Staf Kepresidenan akan terus mengawal program ini sukses,” ujar Dudung.

Direktur ESDM Ungkap Pengembangan Jaringan Gas Sejak 2010
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Agung Kuswardono mengatakan pemerintah telah mengembangkan jargas di Sidoarjo sejak sekitar 2010. Pemerintah daerah turut mendukung pembangunan dengan menyediakan lahan milik pemerintah untuk jalur pipa tanpa menarik retribusi.
“Kalau ini gratis, iya, tidak ada pungutan retribusi. Kalau ada retribusi, itu nanti akan membebani masyarakat. Padahal, tujuan jargas ini supaya masyarakat terbantu,” kata Agung.
Agung mencontohkan, rumah tangga yang sebelumnya mengeluarkan sekitar Rp70.000 untuk kebutuhan energi dapat menekan pengeluaran menjadi sekitar Rp27.000 setelah menggunakan jargas.
Pada 2025–2026, pemerintah menargetkan pembangunan 115.264 sambungan rumah di Jawa Timur dan Jawa Barat yang tersebar di 15 kabupaten/kota. Program tersebut menyasar antara lain rumah tangga yang sebelumnya menggunakan LPG 3 kilogram.
Pemerintah mengatur proses administrasi secara kolektif melalui pemerintah daerah. Warga yang masuk sasaran program cukup menyiapkan dokumen seperti KTP dan kartu keluarga (KK).
Agung mengatakan pemerintah masih perlu meningkatkan sosialisasi karena sebagian warga belum memahami cara penggunaan dan manfaat jargas.
“Kami akan sosialisasi lagi bersama PGN sebagai operator untuk mengedukasi masyarakat,” ujar Agung.
Sosialisasi tersebut mencakup cara penggunaan, manfaat, hingga aspek keamanan jargas. Pemerintah menargetkan pembangunan jaringan gas untuk 1 juta sambungan rumah hingga 2028.
Dalam kunjungan tersebut, Dudung bersama Agung dan Subandi juga mendatangi rumah warga untuk melihat penggunaan jargas secara langsung.
Linda Widianingsih, 43, warga RT 05/RW 02 Desa Kalipecabean, mengaku telah mengajukan sambungan jargas sejak 2021. Pemerintah baru merealisasikan sambungan tersebut pada 2026 tanpa memungut biaya pemasangan.
Sebelum menggunakan jargas, Linda mengeluarkan sekitar Rp70.000 per bulan untuk membeli tiga tabung LPG 3 kilogram. Kini, pengeluarannya turun menjadi sekitar Rp40.000–Rp45.000 per bulan.
“Sekarang, dengan adanya jaringan gas, irit sampai setengahnya,” ujar Linda.
Warga lainnya, Dian Widiarmanik, 47, mengatakan pemerintah terlebih dahulu melakukan sosialisasi di tingkat kelurahan sebelum memasang jaringan gas di rumah warga. Setelah warga menyetujui program tersebut, petugas memasang pipa dan kompor tanpa biaya.
Dian juga mendapat fasilitas gas gratis selama tiga bulan pertama. Setelah itu, ia membayar sekitar Rp27.000–Rp30.000 per bulan yang juga bisa melalui Indomaret.
“Lebih murah, lebih irit ini. Istilahnya kan saya dulu itu gak berani pakai kalau regulator habis. Kita gak berani. Jadi kita nunggu suami dulu pulang kerja. Jadi kalau sekarang 24 jam non-stop kita pakai,” ujar Dian.
Dian berharap pemerintah memperluas jargas agar manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak masyarakat.
“Harapan saya biar semua masyarakat Indonesia merasakan gimana enaknya punya gas. Kalau dulu pakai LPG kita masih bingung nanti kan habis, masih cari malam-malam gimana, ke mana. Kalau ini 24 jam non-stop,” katanya.
Red-Den-Post