Komisi VII DPR RI Tinjau Luberan Lumpur Lapindo, Minta PPLS Percepat Penanganan

Sidoarjopost.com – Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono meninjau lokasi luberan lumpur di kawasan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Senin (13/7/2026). Luberan muncul sejak Jumat (10/7/2026). Titiknya berada di P10D, sisi utara dan barat pusat semburan. Lokasi tersebut berdekatan dengan jalur rel kereta api dan Jalan Raya Porong.

Bambang menilai PPLS perlu mempercepat penanganan. Kawasan itu menjadi jalur utama transportasi publik dan distribusi logistik nasional. Menurutnya, keterlambatan penanganan dapat mengganggu keselamatan masyarakat dan aktivitas perekonomian.

“Jika tidak segera ditanggulangi, ini dikhawatirkan akan menjadi lebih besar lagi dan bisa menghambat transportasi publik maupun logistik karena berada di jalan nasional. Jadi, bukan hanya membahayakan keselamatan masyarakat, tetapi juga dapat menghambat perekonomian Jawa Timur dan nasional,” kata Bambang.

Bambang meminta PPLS mempercepat pembuangan air lumpur ke Sungai Porong untuk mengurangi tekanan pada tanggul. Anggota Komisi VII DPR RI tersebut juga meminta PPLS memperkuat tanggul di titik rawan.

Selanjutnya, dia mendorong Pemerintah Kabupaten Sidoarjo segera merealisasikan sistem peringatan dini (early warning system) agar masyarakat memiliki waktu melakukan evakuasi saat kondisi darurat terjadi.

Petugas PPLS Arif Firmanto menjelaskan penurunan tanah di titik P10D mencapai rata-rata 0,5 meter per tahun. Total panjang tanggul mencapai 11 kilometer. Sisi barat memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi karena lokasinya dekat rel kereta api dan Jalan Raya Porong. Saat ini PPLS meninggikan tanggul sekitar satu meter. PPLS juga menyusun kajian teknis untuk menentukan solusi permanen.

Arif memastikan volume semburan lumpur tidak meningkat. Hasil pengukuran menunjukkan debit lumpur berkisar 27.000 hingga 32.000 meter kubik.

“Kalau dibandingkan 20 tahun lalu memang jauh menurun. Dari awal sekitar 100.000 sampai 120.000 meter kubik, sedangkan hasil pengukuran saat ini rata-rata 27.000 sampai 32.000 meter kubik,” pungkas Arif.

 

Red-SDA-Mad