16 Sound Horeg Semarakkan HUT ke-81 RI Akhir Agustus 2026 di Gempolsari Tanggulangin, UMKM Raup Untung

Sidoarjopost.com – Sebanyak 16 sound horeg memeriahkan rangkaian kegiatan untuk menutup HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, pada akhir Agustus 2026.

Kegiatan selama dua hari itu tidak hanya menyedot antusiasme warga, tetapi juga membawa keuntungan bagi pelaku UMKM.

Panitia memulai rangkaian kegiatan pada Sabtu (29/8/2026) dengan mengadakan cek suara atau sound check. Kegiatan tersebut turut menghadirkan penampilan disjoki (DJ) dan penari yang menghibur warga.

Memasuki hari kedua, Minggu (30/8/2026), warga mengarak 16 sound horeg dalam pawai karnaval menuju Lapangan Jogo Dayo. Arak-arakan mulai sekitar pukul 16.00 WIB dan berlangsung hingga tengah malam.

Rombongan berangkat dari perbatasan selatan Desa Gempolsari menuju Lapangan Jogo Dayo untuk mengikuti sesi adu penampilan (battle) sound horeg. Sebanyak 16 rukun tetangga (RT) ikut ambil bagian dengan menyewa masing-masing satu sound horeg yang mereka angkut menggunakan truk.

Setibanya di lapangan, setiap truk sound horeg tampil bergantian dalam sesi adu penampilan (battle). Lampu hias, tarian, atraksi, dan berbagai busana adat menambah kemeriahan. Penonton tidak hanya berasal dari Desa Gempolsari dan Kecamatan Tanggulangin, tetapi juga dari Candi, Jabon, dan Porong.

Bagus, warga Desa Gempolsari RT 11, mengatakan antusiasme warga meningkat setelah melihat kemeriahan acara serupa pada tahun sebelumnya.

“Karena tahun kemarin seru, akhirnya yang lain juga ikut semua,” kata Bagus.

Menurut dia, warga mengikuti kegiatan tersebut atas kemauan sendiri dan membiayai seluruh pelaksanaannya secara swadaya. Setiap RT memiliki kesepakatan berbeda mengenai besaran iuran.

“Ini memang atas kemauan warga sendiri, tidak ada paksaan. Ada yang iurannya dihitung per KK, ada juga yang per orang. Di tempat saya ada yang Rp2 juta, ada juga yang Rp1 juta,” katanya.

Warga mengumpulkan dana kegiatan secara sukarela selama setahun sebelumnya. Panitia memilih Lapangan Jogo Dayo karena lokasinya jauh dari permukiman dan memiliki area terbuka yang cukup luas.

Arin, PKL penjual makanan olahan sosis, kebanjiran pembeli saat acara pertunjukan sound horeg di Gempolsari, Tanggulangin.

Keramaian pawai juga membawa keuntungan bagi pedagang. Sekitar 20 pedagang kaki lima (PKL) menjual makanan dan minuman di sepanjang rute hingga Lapangan Jogo Dayo.

Arin, pedagang makanan olahan sosis, mengaku memperoleh keuntungan bersih Rp800 ribu pada hari pertama setelah membayar sewa stan Rp20 ribu. Pada hari kedua, jumlah pembeli meningkat dan keuntungannya mencapai sekitar Rp1 juta.

“Hari kedua ini, alhamdulillah pembeli makin ramai. Saya bisa dapat sekitar Rp1 juta,” kata Arin.

Pedagang minuman kemasan, Wakidah, juga memperoleh keuntungan ratusan ribu rupiah selama dua hari berjualan.

“Saya jualan air mineral dan minuman lain, Teh Pucuk juga ada. Kemarin mulai sore jualan, alhamdulillah untung bersih Rp400 ribu. Hari ini juga ramai, sekitar Rp575 ribu,” ujarnya.

Irfan, salah satu panitia gelaran pawai dan pertunjukan sound horeg, mengatakan Karang Taruna bersama warga menyiapkan acara secara swadaya.

Dia bersama panitia juga berkoordinasi dengan masing-masing RT untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman dan lancar serta menghibur warga.

“Kami dari panitia bersama Karang Taruna berkoordinasi dengan warga dan masing-masing RT. Semua persiapan kami lakukan bersama, termasuk mengatur jalur pawai dan lokasi pertunjukan,” kata Irfan.

Irfan mengatakan setiap RT menyewa satu sound horeg dengan tarif berbeda, tergantung ukuran dan perangkat yang digunakan. Biaya sewa sound horeg berkisar Rp17 juta hingga Rp80 juta.

“Di antaranya SS Gank, BS Gank, S Kobar Gank, R9 Gank, R8 Gank, T Jap Tleser, Seven Get Up, Eleven Gank, Pemuda Ruwet, dan masih banyak lainnya. Total ada 16 sound yang kami sewa,” papar Irfan.

Irfan menegaskan warga dari seluruh RT Desa Gempolsari menanggung biaya kegiatan melalui swadaya. Pemerintah Desa tidak membiayai kegiatan tersebut.

“Semua murni swadaya warga. Tidak ada campur tangan dari Pemerintah Desa. Sumbangan juga berdasarkan kesepakatan dan sukarela, tidak ada unsur pemaksaan. Alhamdulillah, semua warga mendukung dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini,” tegas Irfan.

Irfan mengatakan panitia memilih lahan milik seorang warga sebagai lokasi battle sound horeg karena sebelumnya tidak digunakan. Panitia meminta izin kepada pemilik lahan sebelum menggelar pertunjukan.

“Ini lahan milik warga yang tidak dipakai. Sebelumnya sudah kami sampaikan kepada pemiliknya dan pemilik mengizinkan kami menggunakan lahan ini untuk acara. Kemudian kami jadikan tempat battle sound horeg. Lokasinya cukup luas dan jauh dari rumah warga,” jelasnya.

Dari sisi keamanan, Bhabinkamtibmas Polsek Tanggulangin Aiptu Nanang mengatakan tiga unsur mengamankan acara dengan total 25 personel. Polsek Tanggulangin menurunkan 10 personel, Koramil 10 personel, dan Satpol PP Kecamatan lima personel.

Sebelum acara berlangsung, Nanang bersama panitia menyampaikan imbauan kepada warga, terutama keluarga yang memiliki lansia atau warga yang tidak tahan suara keras.

“Kami sampaikan kepada ketua RT, kalau ada keluarga yang sudah tua atau tidak tahan dengan suara keras, sementara dititipkan dulu ke keluarga atau tetangga yang rumahnya jauh dari lokasi acara,” kata Nanang.

Nanang mengatakan warga mengikuti imbauan tersebut. Hingga acara berakhir, tidak ada laporan gangguan maupun keluhan dari warga.

“Alhamdulillah sampai acara berakhir tidak ada warga yang mengalami gangguan karena acara ini. Imbauan kami kepada RT disampaikan kepada warga dan warga juga mengikuti arahan,” kata Nanang.

Petugas terus memantau sekitar lokasi hingga pertunjukan berakhir untuk menjaga keamanan dan ketertiban.

“Sampai kegiatan selesai situasi aman dan kondusif. Tidak ada kejadian yang mengganggu jalannya acara dan tidak ada keluhan dari warga,” pungkasnya.

 

Red-SDA-Post