Dinkes Catat 60 Remaja Sidoarjo Masuk Data HIV Sejak 2001, Stigma ODHIV Masih Jadi Tantangan

Sidoarjopost.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo memperkuat edukasi pencegahan HIV kepada pelajar setelah mencatat 60 kasus HIV pada kelompok usia 11–17 tahun berdasarkan data kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026.

Dari jumlah tersebut, 7 orang meninggal dunia, sedangkan 53 lainnya masih hidup dengan HIV. Data itu menjadi salah satu dasar bagi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk memperluas edukasi pencegahan HIV di kalangan remaja.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan pihaknya tidak hanya mengedukasi remaja untuk mencegah penularan HIV, tetapi juga membangun pemahaman agar masyarakat tidak memberi stigma kepada orang dengan HIV (ODHIV).

“Remaja perlu memahami informasi yang benar tentang HIV. Mereka harus menjaga diri dari perilaku berisiko sekaligus menghormati hak ODHIV untuk hidup sehat dengan dukungan masyarakat,” kata Lakhsmie.

Menurutnya, banyak masyarakat masih salah memahami HIV sehingga memberi perlakuan diskriminatif kepada ODHIV. Padahal, HIV tidak menular melalui aktivitas sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, belajar bersama, berbagi makanan, menggunakan toilet yang sama, maupun gigitan nyamuk.

“HIV hanya menular melalui hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta dari orang tua kepada anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui jika orang tua tidak menjalani pengobatan yang tepat,” ujarnya.

Lakhsmie menegaskan masyarakat tidak boleh menjauhi ODHIV. Terapi antiretroviral (ARV) membantu ODHIV hidup produktif dan menjaga kualitas hidup.

“ODHIV berhak atas layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial yang layak. Masyarakat harus mencegah penularan HIV, bukan menjauhi orangnya,” katanya.

Ia menambahkan, stigma terhadap ODHIV justru menghambat penanganan HIV. Stigma sering membuat seseorang enggan memeriksakan diri atau mengikuti pengobatan.

Petugas kesehatan terus memperluas skrining HIV agar tenaga medis menemukan kasus lebih awal. Melalui deteksi dini, tenaga medis segera memberikan pengobatan sehingga pasien dapat menjaga kesehatannya dan mengurangi risiko penularan.

Data Dinkes Sidoarjo menunjukkan, kasus HIV secara umum masih didominasi kelompok usia di atas 24 tahun yang berkaitan dengan perilaku berisiko.

Sementara kasus HIV pada anak usia 0–10 tahun umumnya terjadi akibat penularan dari orang tua kepada anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.

Untuk memperkuat pencegahan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo menjalankan skrining HIV berdasarkan siklus kehidupan.

Pemeriksaan dimulai sejak masa kehamilan melalui program triple eliminasi HIV, sifilis, dan hepatitis B. Tenaga kesehatan kemudian memantau serta memeriksa bayi sejak dini untuk memutus rantai penularan.

Melalui edukasi berkelanjutan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo terus menekan kasus baru HIV, terutama pada kelompok usia muda.

Instansi itu juga mengajak masyarakat membangun lingkungan yang peduli, inklusif, dan bebas stigma terhadap ODHIV.

 

Red-sda-post