SKDOARJO, Sidoarjopost.com – Di bunderan persimpangan dari arah Candi menuju Sidoarjo Kota, hiruk-pikuk kendaraan seketika terasa berbeda. Ada aroma manis gula aren yang berpadu dengan gurih santan segar, membelai hidung siapa pun yang melintas.
Di sinilah Dawet Bakeran lahir minuman tradisional legendaris yang berdiri sejak tahun 1955. Bukan sekedar pelepas dahaga, tetapi juga saksi bisu perjalanan kuliner Sidoarjo.
Butiran ketan kenyal yang mengambang di atas campuran santan dan gula aren tidak hanya menawarkan tekstur lembut, tetapi juga membangkitkan kenangan masa kecil di masalalu
Setiap tahap pembuatannya dilakukan dengan ketelitian: ketan dimasak hingga pas, santan direbus dengan suhu tepat agar gurih tanpa langu, dan gula aren dimasak perlahan hingga harum serta manis alami. Harmoni rasa manis, gurih, dan segar tercipta dari ketelatenan tangan-tangan yang telah menguasai resep turun-temurun ini.
Nama “Bakeran” sendiri mengingatkan pada daerah asalnya, pusat produksi dawet tradisional yang hingga kini tetap setia mempertahankan cara kuno meracik dan menyajikan minuman ini. Penjualnya, baik dari gerobak kecil maupun warung sederhana, melayani warga lokal maupun pengunjung dari luar kota yang ingin menikmati kuliner otentik.
Lokasi dan jam buka:
Ruko Pasar Larangan, Jl. Sunandar Priyo Sudarmo Stand BB-28, Candi.
Buka pukul 06:30 hingga 14:00, mampirlah sekedar karena penasaran dengan cerita legendanya atau bisa menikmati minuman yang menyegarkan sekaligus melepas penat.
Varian Dawet Bakeran:
• Dawet Klasik: Tetap setia dengan ketan kenyal, santan segar, gula aren murni, dan es serut.
• Dawet Modern / Variasi Topping: Tape ketan, potongan nangka, atau cincau hitam menambah tekstur dan rasa tanpa menghilangkan esensi tradisional.
• Dawet Paket Takeaway: Disajikan dalam gelas besar, bisa disesuaikan tingkat kemanisannya, praktis dibawa pulang.
Menyeruput Dawet Bakeran bukan sekedar menikmati rasa. Setiap tegukan menghadirkan kehangatan, kebersamaan, dan kenangan masa lalu, sambil menyelami cerita yang tersimpan dalam setiap butir ketan dan tetes santan.
Tidak mengherankan jika Dawet Bakeran menjadi hidden gem kuliner Sidoarjo, selalu mencuri perhatian di festival kuliner Nusantara, dan menjadi simbol bagaimana tradisi sederhana mampu tetap hidup di tengah modernisasi.
Ulasan dari pengunjung di Goggle Review:
@Agus Riyanto: “Seger banget kawan! Dawet Bakeran ini, apalagi diminum siang hari.”
@Rony Alp: “Nyari es dawet mah gampang, tapi yang enak dan nyegerin mah susah, apalagi dengan sajian gula arennya.”
@Anastasia Maharani: “Es dawet yang rasanya beda dari yang lain, manisnya gula arennya pas, recommended!”
Hay, Sobat Post! Sudahkah kalian pernah nyobain Dawet Bakeran, atau sekedar mendengar kisah legendarisnya?
Achmad-red-post