Malik Ibrahim Art Space Gelar Made ing Njapan di Sidoarjo

SIDOARJO, Sidoarjopost.com -Malik Ibrahim Art Space (Rumah Budaya Malik Ibrahim) membuka program seni dan budaya kolaboratif Made ing Njapan di Sidoarjo, Kamis (4/6/2026).

Program ini mempertemukan seniman Jepang dan Indonesia melalui residensi, diskusi publik, lokakarya, pertunjukan musik, hingga pemutaran film.

Program tersebut berangkat dari ketertarikan terhadap berbagai titik temu antara Jepang dan Sidoarjo. Kesamaan itu terlihat dalam sejarah, budaya keseharian, serta praktik craftsmanship yang berkembang di kedua wilayah.

Nama Made ing Njapan terinspirasi dari kemiripan bunyi antara kata “Japan” dan “Njapanan”. Masyarakat setempat mengenal Japanan sebagai salah satu kawasan di Sidoarjo. Meski tidak memiliki hubungan historis langsung dengan Jepang, kemiripan linguistik tersebut menjadi titik awal untuk membangun dialog lintas budaya.

“Made ing Njapan bukan sekadar program pertukaran seni. Program ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman, pengetahuan, dan cara pandang yang berbeda. Kami ingin membuka dialog antara Jepang dan Sidoarjo melalui praktik seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar perwakilan Malik Ibrahim Art Space.

Malik Ibrahim Art Space Made ing Njapan Menelusuri Jejak Kadipaten Japan di Jawatimur

Selama dua tahun penelitian, tim program menelusuri berbagai keterkaitan sejarah di Jawa Timur. Dalam proses tersebut, mereka menemukan keberadaan Kadipaten Japan di wilayah Mojokerto. Wilayah itu berkembang sejak abad ke-16 hingga abad ke-19.

Kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Japan tersebut menjadi salah satu titik strategis yang terhubung dengan Delta Brantas. Kawasan ini turut membentuk lanskap Sidoarjo hingga saat ini.

Tim penyelenggara menjadikan temuan tersebut sebagai landasan konseptual program. Mereka menelusuri kembali hubungan antara nama, memori kolektif, geografi, dan identitas budaya. Melalui pendekatan itu, penyelenggara ingin menghadirkan ruang dialog yang tidak hanya membahas seni, tetapi juga sejarah dan dinamika sosial masyarakat.

Program ini mengusung semangat Monozukuri dan Kaizen, dua filosofi yang lekat dengan budaya Jepang. Melalui semangat tersebut, Made ing Njapan mengajak masyarakat memandang craftsmanship lebih dari sekadar kemampuan menghasilkan karya. Praktik tersebut juga mencerminkan proses belajar, berbagi pengetahuan, dan membangun kolaborasi yang berkelanjutan.

“Kami ingin menghadirkan ruang pertemuan yang memungkinkan seniman dan masyarakat saling belajar. Program ini juga menjadi upaya untuk melihat kembali hubungan antara sejarah, identitas lokal, dan praktik budaya yang terus berkembang,” katanya.

Made ing Njapan Hadirkan Pertunjukan Musik dan Diskusi Publik

Panitia membuka rangkaian program dengan pertunjukan kolaboratif antara Masashi Yoshida dan Argamand Patrol Ensemble. Keduanya menghadirkan aransemen musik yang dikembangkan bersama.

Mereka juga menampilkan eksplorasi artistik khas masing-masing. Perpaduan bucket drumming dan tradisi musik lokal menjadi ruang awal dialog budaya. Semangat itulah yang kemudian menjadi benang merah seluruh rangkaian program.

Setelah pertunjukan, panitia menggelar Njapan Talk. Forum ini menghadirkan para seniman Jepang yang mengikuti program residensi. Mereka berbagi pengalaman selama tinggal dan berkarya di Indonesia. Para peserta juga merefleksikan berbagai perjumpaan budaya serta pengamatan mereka terhadap kehidupan masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya.

Program Made ing Njapan akan berlangsung hingga Juli 2026. Panitia menyiapkan sejumlah agenda publik untuk masyarakat. Di antaranya lokakarya Racik Godhong yang mengeksplorasi budaya minum teh Jepang dan Indonesia.

Ada pula Kursi Panaz yang membahas praktik residensi seni. Selain itu, panitia menggelar Bincang Sejarah: Dinamika Dominasi Budaya Jepang. Forum tersebut mengulas pengaruh dan konstruksi citra Jepang dari perspektif sejarah dan sosiologi.

Panitia juga menghadirkan diskusi mengenai teknologi nuklir Jepang. Rangkaian program turut menghadirkan pemutaran film The Lines That Define Me. Film tersebut mengangkat tema proses kreatif dan pencarian jati diri melalui seni kaligrafi Jepang.

Melalui program ini, Malik Ibrahim Art Space berharap dapat membuka ruang pertemuan yang mendorong dialog lintas budaya. Program tersebut juga diharapkan memperluas perspektif terhadap sejarah dan identitas lokal. Selain itu, penyelenggara ingin menghadirkan kemungkinan baru bagi praktik seni yang berakar pada pengalaman hidup sehari-hari.